Ribuan tahun jarak memisahkan
Berabad jarak tak kuasa menghapus kerinduan
Ketika cahaya Islam terang benderang
Ketika tangan yang penuh rahmat dan kemuliaan
Membimbing jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran
Tumbuhlah tunas-tunas mujahid yang gagah membela kebenaran
Oh……………………………………..
Akankah kembali masa-masa indah itu
Oh……………………………………..
Akankah datang zaman gemilang itu
Andai kau ada di sini
Andai engkau ada di zaman ini
Andai engkau ada di negeri ini
Ada ribuan kata yang takkan terucap
Selaksa rasa yang tak terperi
Ya…..Rosullullah…andai kau ada di sini
Takkan mungkin simiskin dan sipapa terus menerus di zholimi
Takkan mungkin kebenaran jadi bias tak ada arti
Ya…..Rosullullah…..andai kau ada di negeri ini
Negeri selaksa bencana
Gempa, banjir, longsor, gunung meletus tak ada habis-habisnya
Entahkah azab, entahkah peringatan, entahkah………..
Beribu tanya di hati kami
Kalau peringatan…mengapa tak jua kunjung sadar
Kalau azab………mengapa tak jua jera
Negeri tempat haq dan bathil makin tersamar
Kampung yang nyaman bagi koruptor
Kampung yang nyaman bagi politikus kotor
Kampung diman aparat begitu murah mempermainkan hukum
Kampung dimana pejabat menindas rakyat
Hanya mengumpulkan kekayaan di atas penderitaan rakyat
Yang makin terhimpit, terjepit, dan terpinggir
Dari kampungnya sendiri mereka terusir
Ya…..Rosullullah……ya………..habibullah
Ya…..Mustofa……ya……Abul yatama
Salamu alaika…………..salamu alaika
Andai kau ada di negeri ini
Andai kau hadir di sini
Andai engkau ada di zaman ini
Ribuan kata tak terucap
Selaksa rasa tak terperi
Andai sahabatmu Umar Al faruq ada disini
Andai sang Kalifah itu melihat carut marutnya negeri ini
Kalifah penguasa negeri yang memikul gandum dengan bahunya sendiri
Ketika menemukan rakyatnya lapar dimalam sunyi
Lihatlah negeri ini………..
Anak yatim dan miskin terlantar di jalanan
Jadi santapan durjana dan terlecehkan
Lihatlah negeri ini…
Para pejabat ngobrol di meja makan sambil berkelakar
Membahas rakyat yang kena busung lapar
Lihatlah negeri ini
Para hakim bertransaksi, mempermainkan vonis
Hukum bagaikan jual beli
Ya………….Rosullullah……ya …..habibullah
Ya………mustopa………ya abul yatama
Salamu alaika……salamu alaika
Lihatlah umat dan rakyat kebingungan
Ketika ulama yang katanya pewaris nabi
Tak lagi menjadi pewaris nabi
Mengumbar fatwa sesukanya
Atau sesuai selera penguasa yang di dukungnya
Atau bahkan sibuk mengejar ambisi rebutan kursi
Loncat sini loncat sini
Menggunakan kendaraan ormas islami
Untuk kepentingannya sendiri, karena ia gagal di sana gagal di sini( kasian deh lu!)
Haruskah kami mengikuti para ustadz dan ulama yang menjadi penjilat
Menempel-nempel pada penguasa bejat
Berebut jabat tangan dengan para pejabat
Mengharap ada rezeki yang terciprat
Ya…Rosulullah……….ya habibullah
Ya mustopa………..ya………abul yatama
Salamu alaika………….salamu alaika
Andai kau ada di sini
Andai kau ada di zaman ini
Andai engkau ada di negeri ini
Selaksa kata tak terucap
Beribu rasa tak terperi
Sudah banyak air mata yang tercurah
Telah tergenang darah yang tertumpah
Ya…......Rosullullah……ya………….habibullah
Ya …….mustopa………..ya……….abul yatama
Salamu alaika………salamu alaika
Selasa, 17 Agustus 2010
Cerpen : Demi Desa, Apa sih Yang Enggak?
Pada suatu malam musim hujan di bulan November badai mengamuk di desa Suka Maju. Petir menyambar-nyambar. Angin topan menderu-deru dahsyat. Beberapa pohon durian tumbang. Atap seng penduduk ada yang lepas dan jatuh melayang. Sungai meluap sampai jauh.
Keesokan paginya penduduk desa berbenah. Ternyata rumah penduduk tak begitu parah. Tapi tempat ibadah mereka, masjid At-Taqwa, dan dua kelas bangunan Sekolah Dasar rusak berat. Mereka mengumpulkan rumah untuk memperbaiki bangunan itu.
Wali Negeri memimpin rapat di balairung desa.
“Saudara-saudara. Dalam musibah topan malam Kamis yang lalu ternyata masjid kita dan dua kelas SD rusak parah. Sesudah dihitung-hitung, biaya perbaikan masjid 2 juta rupiah dan biaya perbaikan SD juga dua juta rupiah. Kas dan uang derma yang berhasil dikumpulkan warga desa persis 2 juta rupiah juga. Apa langkah kita selanjutnya?”
“Pak Lurah,” kata Gaek Ulu, petani lobak desa Suka Maju,” mari kita perbaiki At-Taqwa. Masjid kan paling penting dalam kehidupan kita.”
Datuk Kalam, pensiunan guru menyela. “Gaek betul. Tapi sebaiknya SD-lah yang kita benahi dulu.”
“Anak-anak SD dua kelas yang rusak itu, bisa bergiliran memakai ruangan kelas yang tidak rusak. Diatur masuk sekolah bergilir pagi dan sore,” usul Umar, sopir oplet, angkat bicara.
“Begini engku Umar. Saya menyokong Datuk Kalam. Kita perbaiki SD dulu. Soal solat, kan kita bisa solat di rumah masing-masing?”
“Tunggu, tunggu. Solat Jum’at di mana?”
“Mudahlah itu. Di desa Koto Tinggi saja. Kan jauhnya cuma satu kilometer dari desa kita.”
Perdebatan berlanjut terus. Kopi dan Kahwa panas dihidangkan, juga pisang goreng.
Pak Amir yang dari tadi diam sambil menyeruput secangkir kopi, berdiri tiba-tiba. “Tunggu!”
Semua orang yang ada di ruangan rapat pun kaget mendengar suara Pak Amir dan serentak melihatnya.
“Lebih baik kita perbaiki mesjid terlebih dahulu. Masjid kan juga punya beberapa fungsi yang penting, toh! Bukan sekolah aja yang penting!” ujarnya
“Benar, jika tidak ada masjid, anak-anak akan mengaji dimana?” Gaek Ulu menambahkan.
“Ya, masjid tidak boleh diabaikan!” Umar pun tidak mau ketinggalan.
“Bukan mengabaikan. Tapi kita harus memutuskan langkah yang lebih baik. Dengan memperbaiki sekolah, kegiatan pembelajaran pun tidak akan terganggu.” Jelas Datuk kalam.
“Tapi dengan usulan saya tentang bergiliran memakai ruangan yang tidak rusak tadi, maka pembangunan pun bisa dilaksanakan. Pembangunan ruang kelas SD pun tinggal masalah waktu.”
“Iya! Tapi masalahnya adalah, yang mau diperbaiki duluan itu yang mana?” sela Datuk Kalam.
“Menurut perhitungan saya, akan makan banyak waktu untuk memperbaiki masjid dahulu. Lagipula anak-anak SD sebentar lagi kan mau ulangan.” Seorang pemuda bernama Rudy angkat bicara.
“Kita semua tahu itu, dek!” tanggap seorang ibu yang bernama Ibu Sarti sedang menggendong anaknya.
“Yah, hanya sekedar informasi aja kok, bu.”
“Sudah! Sudah! Apakah saudara-saudara yang lain tidak punya usul?” Tanya Pak Lurah menenangkan suasana rapat yang mulai panas.
“Yak! Saya usulkan, yang diperbaiki terlebih dahulu adalah Masjid. Dilihat dari sudut pandang manapun lebih baik yang diperbaiki, ya masjid!” seru Pak Amir sedikit memaksa.
“Tidak bisa begitu dong, Pak! Memangnya apa alasan bapak hingga sebegitu ngototnya?” sangkal Datuk Kalam mulai terpancing emosi.
“Lho? Memangnya bapak bisa masuk surga hanya dengan belajar saja?”
“Kok anda jadi menyangkut-pautkannya dengan hal itu, pak?”
“Terang saja! Anda lebih mementingkan tempat sekolah daripada tempat anda beribadah sendiri. Saya tidak salah, kan?”
“Cukup!!! Tolong bapak-bapak tenang dan hargailah pendapat orang lain. Kita tidak perlu bertengkar hanya karena masalah sepele begini, kan?” seru Pak Lurah berusaha mengendalikan situasi.
“Pak Lurah, bagaimana kalo begini saja. Kita kumpulkan lagi uangnya, jika masih kurang kita minta bantuan ke pemerintah pusat saja.” Usul ibu Sarti.
“Bisa dipertimbangkan.”
“Tapi Pak Lurah, jika dilakukan pungutan lagi terhadap warga dikhawatirkan tak akan ada uang lagi yang akan terkumpul. Bapak kan tahu rata-rata penduduk desa kita ini punya penghasilan yang pas-pasan.” Terang Rudy.
“Sok tahu, kamu!” sindir Ibu Sarti tidak senang pendapatnya disangkal.
“Gini-gini saya S1 lho, bu!” Rudy membela diri.
“S1 kok statusnya pengangguran sih?”
“Ehm! Tenang-tenang!”
Suasana di balairung desa memang sempat sedikit tegang. Namun, semuanya masih bisa dikendalikan. Saat Pak Lurah tengah menenangkan para warga, ada seorang warga lagi yang bernama Pak Karto memasuki ruangan rapat. Dengan satu kalimat “Assalamu’alaikum” para warga di ruangan rapat pun spontan menjawab dan menjadi hening. Wajar saja, Pak Karto adalah seorang teladan dan disegani para warga. Ia juga orang terkaya yang ada di desa Suka Maju.
“Maaf saya baru pulang dari luar kota! Ketika saya lihat keadaan desa yang sedikit berantakan, saya langsung saja datang ke sini. Ternyata memang sedang ada rapat. Tapi sepertinya rapatnya seru, ya!”
“Memang seru dan ramai. Warga kita ternyata aktif-aktif sekali dalam bermusyawarah. Langsung saja, sebenarnya kita punya masalah dengan dana pembangunan bangunan SD dan Mesjid yang rusak berat. Total biaya yang diperlukan adalah 4 juta. Sedangkan uang kas warga, sumbangan dan uang derma hanya cukup 2 juta. Jadi kami berunding untuk menentukan bangunan mana yang terlebih dahulu diperbaiki.” Jelas Pak Lurah.
“Jika itu masalahnya, maka biarlah saya yang menutupi semua kekurangannya. Saya juga belum bayar uang sumbangannya, kan?” jawab Pak Karto dengan dermawannya.
“Lho, pak? Beneran?” Tanya Ibu Sarti tidak yakin.
“Bener. Saya ikhlas,kok!”
Serentak ruangan rapat dipenuhi oleh suara tepuk tangan meriah warga. Mereka benar-benar kagum akan kedermawanannya Pak Karto. Akhirnya, rapat pun ditutup dan diputuskan kegiatan pembangunannya akan langsung dilaksanakan keesokan harinya.
“Bapak kok baik banget sih jadi orang?” Tanya Bu Sarti lagi.
“Lho? Kenapa harus perhitungan? Kan desa ini, desa saya. Saya lahir disini, tinggal disini, besar disini. Jadi, apa sih yang enggak untuk desa? Jika saya bisa lakukan apa yang saya bisa untuk menolong desa, maka saya tidak akan melakukannya setengah-setengah!”. (Ratna Dewi)
Keesokan paginya penduduk desa berbenah. Ternyata rumah penduduk tak begitu parah. Tapi tempat ibadah mereka, masjid At-Taqwa, dan dua kelas bangunan Sekolah Dasar rusak berat. Mereka mengumpulkan rumah untuk memperbaiki bangunan itu.
Wali Negeri memimpin rapat di balairung desa.
“Saudara-saudara. Dalam musibah topan malam Kamis yang lalu ternyata masjid kita dan dua kelas SD rusak parah. Sesudah dihitung-hitung, biaya perbaikan masjid 2 juta rupiah dan biaya perbaikan SD juga dua juta rupiah. Kas dan uang derma yang berhasil dikumpulkan warga desa persis 2 juta rupiah juga. Apa langkah kita selanjutnya?”
“Pak Lurah,” kata Gaek Ulu, petani lobak desa Suka Maju,” mari kita perbaiki At-Taqwa. Masjid kan paling penting dalam kehidupan kita.”
Datuk Kalam, pensiunan guru menyela. “Gaek betul. Tapi sebaiknya SD-lah yang kita benahi dulu.”
“Anak-anak SD dua kelas yang rusak itu, bisa bergiliran memakai ruangan kelas yang tidak rusak. Diatur masuk sekolah bergilir pagi dan sore,” usul Umar, sopir oplet, angkat bicara.
“Begini engku Umar. Saya menyokong Datuk Kalam. Kita perbaiki SD dulu. Soal solat, kan kita bisa solat di rumah masing-masing?”
“Tunggu, tunggu. Solat Jum’at di mana?”
“Mudahlah itu. Di desa Koto Tinggi saja. Kan jauhnya cuma satu kilometer dari desa kita.”
Perdebatan berlanjut terus. Kopi dan Kahwa panas dihidangkan, juga pisang goreng.
Pak Amir yang dari tadi diam sambil menyeruput secangkir kopi, berdiri tiba-tiba. “Tunggu!”
Semua orang yang ada di ruangan rapat pun kaget mendengar suara Pak Amir dan serentak melihatnya.
“Lebih baik kita perbaiki mesjid terlebih dahulu. Masjid kan juga punya beberapa fungsi yang penting, toh! Bukan sekolah aja yang penting!” ujarnya
“Benar, jika tidak ada masjid, anak-anak akan mengaji dimana?” Gaek Ulu menambahkan.
“Ya, masjid tidak boleh diabaikan!” Umar pun tidak mau ketinggalan.
“Bukan mengabaikan. Tapi kita harus memutuskan langkah yang lebih baik. Dengan memperbaiki sekolah, kegiatan pembelajaran pun tidak akan terganggu.” Jelas Datuk kalam.
“Tapi dengan usulan saya tentang bergiliran memakai ruangan yang tidak rusak tadi, maka pembangunan pun bisa dilaksanakan. Pembangunan ruang kelas SD pun tinggal masalah waktu.”
“Iya! Tapi masalahnya adalah, yang mau diperbaiki duluan itu yang mana?” sela Datuk Kalam.
“Menurut perhitungan saya, akan makan banyak waktu untuk memperbaiki masjid dahulu. Lagipula anak-anak SD sebentar lagi kan mau ulangan.” Seorang pemuda bernama Rudy angkat bicara.
“Kita semua tahu itu, dek!” tanggap seorang ibu yang bernama Ibu Sarti sedang menggendong anaknya.
“Yah, hanya sekedar informasi aja kok, bu.”
“Sudah! Sudah! Apakah saudara-saudara yang lain tidak punya usul?” Tanya Pak Lurah menenangkan suasana rapat yang mulai panas.
“Yak! Saya usulkan, yang diperbaiki terlebih dahulu adalah Masjid. Dilihat dari sudut pandang manapun lebih baik yang diperbaiki, ya masjid!” seru Pak Amir sedikit memaksa.
“Tidak bisa begitu dong, Pak! Memangnya apa alasan bapak hingga sebegitu ngototnya?” sangkal Datuk Kalam mulai terpancing emosi.
“Lho? Memangnya bapak bisa masuk surga hanya dengan belajar saja?”
“Kok anda jadi menyangkut-pautkannya dengan hal itu, pak?”
“Terang saja! Anda lebih mementingkan tempat sekolah daripada tempat anda beribadah sendiri. Saya tidak salah, kan?”
“Cukup!!! Tolong bapak-bapak tenang dan hargailah pendapat orang lain. Kita tidak perlu bertengkar hanya karena masalah sepele begini, kan?” seru Pak Lurah berusaha mengendalikan situasi.
“Pak Lurah, bagaimana kalo begini saja. Kita kumpulkan lagi uangnya, jika masih kurang kita minta bantuan ke pemerintah pusat saja.” Usul ibu Sarti.
“Bisa dipertimbangkan.”
“Tapi Pak Lurah, jika dilakukan pungutan lagi terhadap warga dikhawatirkan tak akan ada uang lagi yang akan terkumpul. Bapak kan tahu rata-rata penduduk desa kita ini punya penghasilan yang pas-pasan.” Terang Rudy.
“Sok tahu, kamu!” sindir Ibu Sarti tidak senang pendapatnya disangkal.
“Gini-gini saya S1 lho, bu!” Rudy membela diri.
“S1 kok statusnya pengangguran sih?”
“Ehm! Tenang-tenang!”
Suasana di balairung desa memang sempat sedikit tegang. Namun, semuanya masih bisa dikendalikan. Saat Pak Lurah tengah menenangkan para warga, ada seorang warga lagi yang bernama Pak Karto memasuki ruangan rapat. Dengan satu kalimat “Assalamu’alaikum” para warga di ruangan rapat pun spontan menjawab dan menjadi hening. Wajar saja, Pak Karto adalah seorang teladan dan disegani para warga. Ia juga orang terkaya yang ada di desa Suka Maju.
“Maaf saya baru pulang dari luar kota! Ketika saya lihat keadaan desa yang sedikit berantakan, saya langsung saja datang ke sini. Ternyata memang sedang ada rapat. Tapi sepertinya rapatnya seru, ya!”
“Memang seru dan ramai. Warga kita ternyata aktif-aktif sekali dalam bermusyawarah. Langsung saja, sebenarnya kita punya masalah dengan dana pembangunan bangunan SD dan Mesjid yang rusak berat. Total biaya yang diperlukan adalah 4 juta. Sedangkan uang kas warga, sumbangan dan uang derma hanya cukup 2 juta. Jadi kami berunding untuk menentukan bangunan mana yang terlebih dahulu diperbaiki.” Jelas Pak Lurah.
“Jika itu masalahnya, maka biarlah saya yang menutupi semua kekurangannya. Saya juga belum bayar uang sumbangannya, kan?” jawab Pak Karto dengan dermawannya.
“Lho, pak? Beneran?” Tanya Ibu Sarti tidak yakin.
“Bener. Saya ikhlas,kok!”
Serentak ruangan rapat dipenuhi oleh suara tepuk tangan meriah warga. Mereka benar-benar kagum akan kedermawanannya Pak Karto. Akhirnya, rapat pun ditutup dan diputuskan kegiatan pembangunannya akan langsung dilaksanakan keesokan harinya.
“Bapak kok baik banget sih jadi orang?” Tanya Bu Sarti lagi.
“Lho? Kenapa harus perhitungan? Kan desa ini, desa saya. Saya lahir disini, tinggal disini, besar disini. Jadi, apa sih yang enggak untuk desa? Jika saya bisa lakukan apa yang saya bisa untuk menolong desa, maka saya tidak akan melakukannya setengah-setengah!”. (Ratna Dewi)
Langganan:
Postingan (Atom)
