Ribuan tahun jarak memisahkan
Berabad jarak tak kuasa menghapus kerinduan
Ketika cahaya Islam terang benderang
Ketika tangan yang penuh rahmat dan kemuliaan
Membimbing jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran
Tumbuhlah tunas-tunas mujahid yang gagah membela kebenaran
Oh……………………………………..
Akankah kembali masa-masa indah itu
Oh……………………………………..
Akankah datang zaman gemilang itu
Andai kau ada di sini
Andai engkau ada di zaman ini
Andai engkau ada di negeri ini
Ada ribuan kata yang takkan terucap
Selaksa rasa yang tak terperi
Ya…..Rosullullah…andai kau ada di sini
Takkan mungkin simiskin dan sipapa terus menerus di zholimi
Takkan mungkin kebenaran jadi bias tak ada arti
Ya…..Rosullullah…..andai kau ada di negeri ini
Negeri selaksa bencana
Gempa, banjir, longsor, gunung meletus tak ada habis-habisnya
Entahkah azab, entahkah peringatan, entahkah………..
Beribu tanya di hati kami
Kalau peringatan…mengapa tak jua kunjung sadar
Kalau azab………mengapa tak jua jera
Negeri tempat haq dan bathil makin tersamar
Kampung yang nyaman bagi koruptor
Kampung yang nyaman bagi politikus kotor
Kampung diman aparat begitu murah mempermainkan hukum
Kampung dimana pejabat menindas rakyat
Hanya mengumpulkan kekayaan di atas penderitaan rakyat
Yang makin terhimpit, terjepit, dan terpinggir
Dari kampungnya sendiri mereka terusir
Ya…..Rosullullah……ya………..habibullah
Ya…..Mustofa……ya……Abul yatama
Salamu alaika…………..salamu alaika
Andai kau ada di negeri ini
Andai kau hadir di sini
Andai engkau ada di zaman ini
Ribuan kata tak terucap
Selaksa rasa tak terperi
Andai sahabatmu Umar Al faruq ada disini
Andai sang Kalifah itu melihat carut marutnya negeri ini
Kalifah penguasa negeri yang memikul gandum dengan bahunya sendiri
Ketika menemukan rakyatnya lapar dimalam sunyi
Lihatlah negeri ini………..
Anak yatim dan miskin terlantar di jalanan
Jadi santapan durjana dan terlecehkan
Lihatlah negeri ini…
Para pejabat ngobrol di meja makan sambil berkelakar
Membahas rakyat yang kena busung lapar
Lihatlah negeri ini
Para hakim bertransaksi, mempermainkan vonis
Hukum bagaikan jual beli
Ya………….Rosullullah……ya …..habibullah
Ya………mustopa………ya abul yatama
Salamu alaika……salamu alaika
Lihatlah umat dan rakyat kebingungan
Ketika ulama yang katanya pewaris nabi
Tak lagi menjadi pewaris nabi
Mengumbar fatwa sesukanya
Atau sesuai selera penguasa yang di dukungnya
Atau bahkan sibuk mengejar ambisi rebutan kursi
Loncat sini loncat sini
Menggunakan kendaraan ormas islami
Untuk kepentingannya sendiri, karena ia gagal di sana gagal di sini( kasian deh lu!)
Haruskah kami mengikuti para ustadz dan ulama yang menjadi penjilat
Menempel-nempel pada penguasa bejat
Berebut jabat tangan dengan para pejabat
Mengharap ada rezeki yang terciprat
Ya…Rosulullah……….ya habibullah
Ya mustopa………..ya………abul yatama
Salamu alaika………….salamu alaika
Andai kau ada di sini
Andai kau ada di zaman ini
Andai engkau ada di negeri ini
Selaksa kata tak terucap
Beribu rasa tak terperi
Sudah banyak air mata yang tercurah
Telah tergenang darah yang tertumpah
Ya…......Rosullullah……ya………….habibullah
Ya …….mustopa………..ya……….abul yatama
Salamu alaika………salamu alaika
Selasa, 17 Agustus 2010
Cerpen : Demi Desa, Apa sih Yang Enggak?
Pada suatu malam musim hujan di bulan November badai mengamuk di desa Suka Maju. Petir menyambar-nyambar. Angin topan menderu-deru dahsyat. Beberapa pohon durian tumbang. Atap seng penduduk ada yang lepas dan jatuh melayang. Sungai meluap sampai jauh.
Keesokan paginya penduduk desa berbenah. Ternyata rumah penduduk tak begitu parah. Tapi tempat ibadah mereka, masjid At-Taqwa, dan dua kelas bangunan Sekolah Dasar rusak berat. Mereka mengumpulkan rumah untuk memperbaiki bangunan itu.
Wali Negeri memimpin rapat di balairung desa.
“Saudara-saudara. Dalam musibah topan malam Kamis yang lalu ternyata masjid kita dan dua kelas SD rusak parah. Sesudah dihitung-hitung, biaya perbaikan masjid 2 juta rupiah dan biaya perbaikan SD juga dua juta rupiah. Kas dan uang derma yang berhasil dikumpulkan warga desa persis 2 juta rupiah juga. Apa langkah kita selanjutnya?”
“Pak Lurah,” kata Gaek Ulu, petani lobak desa Suka Maju,” mari kita perbaiki At-Taqwa. Masjid kan paling penting dalam kehidupan kita.”
Datuk Kalam, pensiunan guru menyela. “Gaek betul. Tapi sebaiknya SD-lah yang kita benahi dulu.”
“Anak-anak SD dua kelas yang rusak itu, bisa bergiliran memakai ruangan kelas yang tidak rusak. Diatur masuk sekolah bergilir pagi dan sore,” usul Umar, sopir oplet, angkat bicara.
“Begini engku Umar. Saya menyokong Datuk Kalam. Kita perbaiki SD dulu. Soal solat, kan kita bisa solat di rumah masing-masing?”
“Tunggu, tunggu. Solat Jum’at di mana?”
“Mudahlah itu. Di desa Koto Tinggi saja. Kan jauhnya cuma satu kilometer dari desa kita.”
Perdebatan berlanjut terus. Kopi dan Kahwa panas dihidangkan, juga pisang goreng.
Pak Amir yang dari tadi diam sambil menyeruput secangkir kopi, berdiri tiba-tiba. “Tunggu!”
Semua orang yang ada di ruangan rapat pun kaget mendengar suara Pak Amir dan serentak melihatnya.
“Lebih baik kita perbaiki mesjid terlebih dahulu. Masjid kan juga punya beberapa fungsi yang penting, toh! Bukan sekolah aja yang penting!” ujarnya
“Benar, jika tidak ada masjid, anak-anak akan mengaji dimana?” Gaek Ulu menambahkan.
“Ya, masjid tidak boleh diabaikan!” Umar pun tidak mau ketinggalan.
“Bukan mengabaikan. Tapi kita harus memutuskan langkah yang lebih baik. Dengan memperbaiki sekolah, kegiatan pembelajaran pun tidak akan terganggu.” Jelas Datuk kalam.
“Tapi dengan usulan saya tentang bergiliran memakai ruangan yang tidak rusak tadi, maka pembangunan pun bisa dilaksanakan. Pembangunan ruang kelas SD pun tinggal masalah waktu.”
“Iya! Tapi masalahnya adalah, yang mau diperbaiki duluan itu yang mana?” sela Datuk Kalam.
“Menurut perhitungan saya, akan makan banyak waktu untuk memperbaiki masjid dahulu. Lagipula anak-anak SD sebentar lagi kan mau ulangan.” Seorang pemuda bernama Rudy angkat bicara.
“Kita semua tahu itu, dek!” tanggap seorang ibu yang bernama Ibu Sarti sedang menggendong anaknya.
“Yah, hanya sekedar informasi aja kok, bu.”
“Sudah! Sudah! Apakah saudara-saudara yang lain tidak punya usul?” Tanya Pak Lurah menenangkan suasana rapat yang mulai panas.
“Yak! Saya usulkan, yang diperbaiki terlebih dahulu adalah Masjid. Dilihat dari sudut pandang manapun lebih baik yang diperbaiki, ya masjid!” seru Pak Amir sedikit memaksa.
“Tidak bisa begitu dong, Pak! Memangnya apa alasan bapak hingga sebegitu ngototnya?” sangkal Datuk Kalam mulai terpancing emosi.
“Lho? Memangnya bapak bisa masuk surga hanya dengan belajar saja?”
“Kok anda jadi menyangkut-pautkannya dengan hal itu, pak?”
“Terang saja! Anda lebih mementingkan tempat sekolah daripada tempat anda beribadah sendiri. Saya tidak salah, kan?”
“Cukup!!! Tolong bapak-bapak tenang dan hargailah pendapat orang lain. Kita tidak perlu bertengkar hanya karena masalah sepele begini, kan?” seru Pak Lurah berusaha mengendalikan situasi.
“Pak Lurah, bagaimana kalo begini saja. Kita kumpulkan lagi uangnya, jika masih kurang kita minta bantuan ke pemerintah pusat saja.” Usul ibu Sarti.
“Bisa dipertimbangkan.”
“Tapi Pak Lurah, jika dilakukan pungutan lagi terhadap warga dikhawatirkan tak akan ada uang lagi yang akan terkumpul. Bapak kan tahu rata-rata penduduk desa kita ini punya penghasilan yang pas-pasan.” Terang Rudy.
“Sok tahu, kamu!” sindir Ibu Sarti tidak senang pendapatnya disangkal.
“Gini-gini saya S1 lho, bu!” Rudy membela diri.
“S1 kok statusnya pengangguran sih?”
“Ehm! Tenang-tenang!”
Suasana di balairung desa memang sempat sedikit tegang. Namun, semuanya masih bisa dikendalikan. Saat Pak Lurah tengah menenangkan para warga, ada seorang warga lagi yang bernama Pak Karto memasuki ruangan rapat. Dengan satu kalimat “Assalamu’alaikum” para warga di ruangan rapat pun spontan menjawab dan menjadi hening. Wajar saja, Pak Karto adalah seorang teladan dan disegani para warga. Ia juga orang terkaya yang ada di desa Suka Maju.
“Maaf saya baru pulang dari luar kota! Ketika saya lihat keadaan desa yang sedikit berantakan, saya langsung saja datang ke sini. Ternyata memang sedang ada rapat. Tapi sepertinya rapatnya seru, ya!”
“Memang seru dan ramai. Warga kita ternyata aktif-aktif sekali dalam bermusyawarah. Langsung saja, sebenarnya kita punya masalah dengan dana pembangunan bangunan SD dan Mesjid yang rusak berat. Total biaya yang diperlukan adalah 4 juta. Sedangkan uang kas warga, sumbangan dan uang derma hanya cukup 2 juta. Jadi kami berunding untuk menentukan bangunan mana yang terlebih dahulu diperbaiki.” Jelas Pak Lurah.
“Jika itu masalahnya, maka biarlah saya yang menutupi semua kekurangannya. Saya juga belum bayar uang sumbangannya, kan?” jawab Pak Karto dengan dermawannya.
“Lho, pak? Beneran?” Tanya Ibu Sarti tidak yakin.
“Bener. Saya ikhlas,kok!”
Serentak ruangan rapat dipenuhi oleh suara tepuk tangan meriah warga. Mereka benar-benar kagum akan kedermawanannya Pak Karto. Akhirnya, rapat pun ditutup dan diputuskan kegiatan pembangunannya akan langsung dilaksanakan keesokan harinya.
“Bapak kok baik banget sih jadi orang?” Tanya Bu Sarti lagi.
“Lho? Kenapa harus perhitungan? Kan desa ini, desa saya. Saya lahir disini, tinggal disini, besar disini. Jadi, apa sih yang enggak untuk desa? Jika saya bisa lakukan apa yang saya bisa untuk menolong desa, maka saya tidak akan melakukannya setengah-setengah!”. (Ratna Dewi)
Keesokan paginya penduduk desa berbenah. Ternyata rumah penduduk tak begitu parah. Tapi tempat ibadah mereka, masjid At-Taqwa, dan dua kelas bangunan Sekolah Dasar rusak berat. Mereka mengumpulkan rumah untuk memperbaiki bangunan itu.
Wali Negeri memimpin rapat di balairung desa.
“Saudara-saudara. Dalam musibah topan malam Kamis yang lalu ternyata masjid kita dan dua kelas SD rusak parah. Sesudah dihitung-hitung, biaya perbaikan masjid 2 juta rupiah dan biaya perbaikan SD juga dua juta rupiah. Kas dan uang derma yang berhasil dikumpulkan warga desa persis 2 juta rupiah juga. Apa langkah kita selanjutnya?”
“Pak Lurah,” kata Gaek Ulu, petani lobak desa Suka Maju,” mari kita perbaiki At-Taqwa. Masjid kan paling penting dalam kehidupan kita.”
Datuk Kalam, pensiunan guru menyela. “Gaek betul. Tapi sebaiknya SD-lah yang kita benahi dulu.”
“Anak-anak SD dua kelas yang rusak itu, bisa bergiliran memakai ruangan kelas yang tidak rusak. Diatur masuk sekolah bergilir pagi dan sore,” usul Umar, sopir oplet, angkat bicara.
“Begini engku Umar. Saya menyokong Datuk Kalam. Kita perbaiki SD dulu. Soal solat, kan kita bisa solat di rumah masing-masing?”
“Tunggu, tunggu. Solat Jum’at di mana?”
“Mudahlah itu. Di desa Koto Tinggi saja. Kan jauhnya cuma satu kilometer dari desa kita.”
Perdebatan berlanjut terus. Kopi dan Kahwa panas dihidangkan, juga pisang goreng.
Pak Amir yang dari tadi diam sambil menyeruput secangkir kopi, berdiri tiba-tiba. “Tunggu!”
Semua orang yang ada di ruangan rapat pun kaget mendengar suara Pak Amir dan serentak melihatnya.
“Lebih baik kita perbaiki mesjid terlebih dahulu. Masjid kan juga punya beberapa fungsi yang penting, toh! Bukan sekolah aja yang penting!” ujarnya
“Benar, jika tidak ada masjid, anak-anak akan mengaji dimana?” Gaek Ulu menambahkan.
“Ya, masjid tidak boleh diabaikan!” Umar pun tidak mau ketinggalan.
“Bukan mengabaikan. Tapi kita harus memutuskan langkah yang lebih baik. Dengan memperbaiki sekolah, kegiatan pembelajaran pun tidak akan terganggu.” Jelas Datuk kalam.
“Tapi dengan usulan saya tentang bergiliran memakai ruangan yang tidak rusak tadi, maka pembangunan pun bisa dilaksanakan. Pembangunan ruang kelas SD pun tinggal masalah waktu.”
“Iya! Tapi masalahnya adalah, yang mau diperbaiki duluan itu yang mana?” sela Datuk Kalam.
“Menurut perhitungan saya, akan makan banyak waktu untuk memperbaiki masjid dahulu. Lagipula anak-anak SD sebentar lagi kan mau ulangan.” Seorang pemuda bernama Rudy angkat bicara.
“Kita semua tahu itu, dek!” tanggap seorang ibu yang bernama Ibu Sarti sedang menggendong anaknya.
“Yah, hanya sekedar informasi aja kok, bu.”
“Sudah! Sudah! Apakah saudara-saudara yang lain tidak punya usul?” Tanya Pak Lurah menenangkan suasana rapat yang mulai panas.
“Yak! Saya usulkan, yang diperbaiki terlebih dahulu adalah Masjid. Dilihat dari sudut pandang manapun lebih baik yang diperbaiki, ya masjid!” seru Pak Amir sedikit memaksa.
“Tidak bisa begitu dong, Pak! Memangnya apa alasan bapak hingga sebegitu ngototnya?” sangkal Datuk Kalam mulai terpancing emosi.
“Lho? Memangnya bapak bisa masuk surga hanya dengan belajar saja?”
“Kok anda jadi menyangkut-pautkannya dengan hal itu, pak?”
“Terang saja! Anda lebih mementingkan tempat sekolah daripada tempat anda beribadah sendiri. Saya tidak salah, kan?”
“Cukup!!! Tolong bapak-bapak tenang dan hargailah pendapat orang lain. Kita tidak perlu bertengkar hanya karena masalah sepele begini, kan?” seru Pak Lurah berusaha mengendalikan situasi.
“Pak Lurah, bagaimana kalo begini saja. Kita kumpulkan lagi uangnya, jika masih kurang kita minta bantuan ke pemerintah pusat saja.” Usul ibu Sarti.
“Bisa dipertimbangkan.”
“Tapi Pak Lurah, jika dilakukan pungutan lagi terhadap warga dikhawatirkan tak akan ada uang lagi yang akan terkumpul. Bapak kan tahu rata-rata penduduk desa kita ini punya penghasilan yang pas-pasan.” Terang Rudy.
“Sok tahu, kamu!” sindir Ibu Sarti tidak senang pendapatnya disangkal.
“Gini-gini saya S1 lho, bu!” Rudy membela diri.
“S1 kok statusnya pengangguran sih?”
“Ehm! Tenang-tenang!”
Suasana di balairung desa memang sempat sedikit tegang. Namun, semuanya masih bisa dikendalikan. Saat Pak Lurah tengah menenangkan para warga, ada seorang warga lagi yang bernama Pak Karto memasuki ruangan rapat. Dengan satu kalimat “Assalamu’alaikum” para warga di ruangan rapat pun spontan menjawab dan menjadi hening. Wajar saja, Pak Karto adalah seorang teladan dan disegani para warga. Ia juga orang terkaya yang ada di desa Suka Maju.
“Maaf saya baru pulang dari luar kota! Ketika saya lihat keadaan desa yang sedikit berantakan, saya langsung saja datang ke sini. Ternyata memang sedang ada rapat. Tapi sepertinya rapatnya seru, ya!”
“Memang seru dan ramai. Warga kita ternyata aktif-aktif sekali dalam bermusyawarah. Langsung saja, sebenarnya kita punya masalah dengan dana pembangunan bangunan SD dan Mesjid yang rusak berat. Total biaya yang diperlukan adalah 4 juta. Sedangkan uang kas warga, sumbangan dan uang derma hanya cukup 2 juta. Jadi kami berunding untuk menentukan bangunan mana yang terlebih dahulu diperbaiki.” Jelas Pak Lurah.
“Jika itu masalahnya, maka biarlah saya yang menutupi semua kekurangannya. Saya juga belum bayar uang sumbangannya, kan?” jawab Pak Karto dengan dermawannya.
“Lho, pak? Beneran?” Tanya Ibu Sarti tidak yakin.
“Bener. Saya ikhlas,kok!”
Serentak ruangan rapat dipenuhi oleh suara tepuk tangan meriah warga. Mereka benar-benar kagum akan kedermawanannya Pak Karto. Akhirnya, rapat pun ditutup dan diputuskan kegiatan pembangunannya akan langsung dilaksanakan keesokan harinya.
“Bapak kok baik banget sih jadi orang?” Tanya Bu Sarti lagi.
“Lho? Kenapa harus perhitungan? Kan desa ini, desa saya. Saya lahir disini, tinggal disini, besar disini. Jadi, apa sih yang enggak untuk desa? Jika saya bisa lakukan apa yang saya bisa untuk menolong desa, maka saya tidak akan melakukannya setengah-setengah!”. (Ratna Dewi)
Selasa, 08 Juni 2010
Trik Menghadapi Tilang
Sebagai bangsa pecinta damai, sudah bukan rahasia jika banyak pengguna jalan yang lebih memilih jalur ‘salaman’ jika ditilang. Tapi sesuai dengan semangat reformasi, warga Indonesia juga anti praktik KKN, menyebabkan banyak yang berusaha untuk tidak menyogok, meski tetap keberatan ditilang.
Cara yang diambil sebagai jalan tengah berbeda-beda. Berikut ini adalah tiga trik yang paling sering dicoba hingga terbukti keabsahannya. Dan trik-trik ini…TIDAK PERNAH GAGAL!
RAHASIA ANTI TILANG #1: Saya anak jendral!
Trik ni merupakan trik yang paling umum. Kadang dikombinasikan dengan pengakuan saudara atau penyelipan kartu nama pejabat kepolisian. Saat dihentikan, calon tilang memasang tampang percaya diri, dan berbicara dengan suara lantang, nada sok, penuh keyakinan.
Skenario
“Maaf bu, ibu melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”
“YA SUDAH! YA SUDAH! KAU TILANGLAH AKU SEKARANG! AYO CEPAT! TILANG SAJA!”
“Err…maaf bu, memangnya ibu..siapa ya?”
“MACAM MANA PULA KAU TANYA-TANYA SIAPA AKU! KALAU KAU MAU TILANG, YA TILANGLAH SANA!”
“Maaf bu, ibu kenal siapa?
“MEMANGNYA KALAU AKU KENAL SIAPA-SIAPA KENAPA? HAH? MAU KAU TILANG LEBIH BESAR LAGI? HAH?”
“Engga bu, lain kali hati-hati ya…”
Mengapa tak pernah gagal…Dalam ilmu psikologi, taktik ini ini berpangkal pada reverse psychology, dimana seseorang melakukan persuasi guna mengarahkan lawan bicara melakukan hal yang justru tidak diinginkan. Menyuruh pak polisi untuk menilang dengan lantang akan memicu reaktan dalam diri Pak Polisi, yaitu respon negatif saat menanggapi sebuah persuasi, sehingga bertindak justru kebalikan persuasi yang diberikan (melepaskan dan tidak menilang).
Teori psikologi ini sebenarnya berasal dari abad kuno Indonesia, dan dikenal dalam bahasa lokal sebagai teori gertak sambal, dimana seseorang mengambil peran yang mengisyaratkan kekuatan yang lebih besar dari yang sebenarnya dimiliki. Semakin banyak grey area, lawan bicara semakin ragu akan kemampuan kita sepenuhnya dan biasanya tidak berani mengambil risiko….
Karena seringnya digunakan, diperlukan kehati-hatian dalam melaksanakan trik ini. JANGAN BERBOHONG adalah kunci sukses keberhasilan. Itu termasuk: jangan mengaku saudara jika bukan saudara dan jangan memberi nomor telpon yang tidak bisa dihubungi. Ingat, kegagalan dan gerak-gerik mencurigakan bisa berbuah tilang yang lebih berat!
RAHASIA ANTI TILANG #2: Saya lagi banyak masalah, Pak!
WASPADA! TRIK INI MEMBUTUHKAN LATIHAN AKTING! Tips ini sangat cocok bagi Anda para yang mempunyai kemampuan teaterikal. Begitu polisi menyetop, Anda harus segera mulai penjiwaan. Segera telengkupkan tangan, basahi mata dengan air mata buaya, dan tarik ulur ingus sehingga terdengar seperti menangis. Sepanjang interogasi, jaga kontak mata yang minim dengan Pak Polisi, gerakkan tangan menutup muka seperti sedang depresi.
Skenario
“Maaf bu, ibu melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”
“Aduh, teserah deh, pak, bapak mau nilang saya apa gimana teserah dhe,”
“Memangnya ibu kenapa?”
“Aduh, ga usah nanya-nanya dhe, Pak, saya lagi banyak masalah nih!”
“Masalah ibu apa?”
“Pokoknya saya lagi banyak masalah! Makanya saya ga lihat tadi tuh lampu merah di depan, pikiran saya kusut! Jadi teserah deh kalau bapak mau nilang saya…” Diucapkan dengan nada frustasi dan diakhiri dengan suara lirih dan nada gantung.
“Duh, ada yang bisa saya bantu kalau lagi ada masalah?”
“Ga bisa! Bapak ga bisa bantu saya!” terkesan mau nangis, “Ga ada yang bisa bantu SAAYAA!” menangis histeris.
“Ya uda dhe kalau ibu lagi banyak masalah, lain kali hati-hati ya…”
Mengapa tak pernah gagal… Karena orang jahat selalu menang, dan ini adalah teknik yang sangat jahat. Trik ini memanfaatkan sisi baik dari seorang Polisi. Manusia pada intinya mempunyai hati nurani yang dibimbing oleh nilai moral dalam lingkungan sosial. Tiada manusia yang lahir tanpa empati akan kesusahan manusia lain, bahkan meski hanya setitik. Apalagi seorang Polisi yang diharapkan menjadi pamong masyarakat.
Taktik ini memang masih jarang digunakan, mungkin karena membutuhkan penghayatan yang mendalam dan juga karena trik ini begitu mudah dikenali. Sekali dipakai, tentunya para polisi akan selalu terkenang-kenang. Ibaratnya sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Bisa-bisa bagian skenario tadi dipotong menjadi:
“Ahhh!! Udah! Udah! Ga usah pura-pura! Kemarin uda ada yang pake tuh! Ibu-ibu!”
RAHASIA ANTI TILANG #3: Saya mahasiswa hukum, lho!
Jika Anda bukan mahasiswa hukum, tidak perlu jadi ragu karena membaca judulnya. Memang tidak perlu kuliah hukum sejati untuk menggunakan trik ini. Cukup kemampuan persuasi dan kegigihan mempertahankan kasus macamnya pengacara artis.
Skenario:
“Mbak melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”
“Aduh, maaf, Pak, soalnya rambu-nya nggak kelihatan, ketutupan pohon tuu…lagian saya itu baru pertama kali lewat sini, jadi saya kurang paham sama jalanannya…”
“Ya tapi nggak bisa gitu dong, Mbak tetap melanggar dan harus ditilang”
“Wah, nggak bisa langsung ditilang gitu, pak! Kan saya sudah bilang tadi alasannya, rambunya tidak kelihatan karena ketutupan pohon, jadi sebenarnya kesalahan bukan di pihak saya. Saya ini mahasiswa hukum lho, pak! Masyarakat sadar hukum! Saya tahu benar pasal-pasal dan penerapannya, bahwa kalau pelanggaran karena rambu yang tidak jelas, tidak bisa dikenakan sanksi!”
“Memang aturannya seperti itu kok, melanggar ya kena sanksi!”
“Nahh, itu dia, apalagi saya tadi sudah minta maaf karena pertama kali lewat. Saya ini mahasiswa hukum, Pak, jadi saya tahu aturan persidangan. Saya jelas tidak bersalah karena saya tidak diinformasikan sebelumnya bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Rambu tidak jelas. Saya pertama lewat. Siapa yang bisa memberi tahu saya?”
“Justru ini saya stop dan saya beritahu, Mbak melanggar!”
“Benar sekali, terimakasih, Pak, tugas seorang polisi memang untuk membimbing anggota masyarakatnya agar patuh peraturan. Karena itu sekarang saya jadi tahu disini ga boleh belok, dan lain kali tidak melanggar.”
“Tapi yang ini tetap ditilang!”
“Wah, saya yakin bapakpun sebagai penegak hukum juga belajar hukum seperti saya di fakultas hukum. Pelanggaran kali ini tidak kena tilang, pak, tapi berikutnya jika saya melanggar lagi, saya harus ditilang. “
“Ya sudah ngomong sana di sidang tilang!”
“Sekali lagi pak, saya ini sudah hampir lulus dari fakultas hukum, berarti saya menguasai materi hukum! Coba bapak liat klo ga percaya, ini kartu mahasiswa saya, FAKULTAS HUKUM angkatan tahun ini lulus. Menurut yang saya pelajari, tidak semua pelanggaran harus masuk tahap persidangan, jika sudah diberikan alasan yang valid atas pelanggaran. Saya sudah memberikan alasan saya. Saya bahkan tidak menyalahkan aparat yang meletakkan rambu di tempat yang tidak terlihat.”
“Ya sudah sana pergi!”
Mengapa tak pernah gagal… tidak ada teori psikologi di balik tips ini, kecuali pemahaman bahwa kejiwaan manusia bisa terganggu kalau mendengar suara yang memekakan telinga terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Polisi pun juga manusia, yang bisa gila mendengar rentetan alibi tak henti oleh suara yang tak enak didengar.
Tentunya tips-tips tersebut tidak bermaksud menghina lembaga kepolisian. Kami pun pernah menikmati buah reformasi birokrasi saat mengurus SIM, surat tabrakan dan ditilang. Ramah-cepat-tidak mahal. Justru semua tips ini ditulis supaya pihak berwenang dapat menghindari orang-orang yang suka ngemplang tilang. Ada lagi yang mau membantu upaya penegakan hukum?
Sumber: Buku Have a Sip of Margarita dari Margareta Astaman
Cara yang diambil sebagai jalan tengah berbeda-beda. Berikut ini adalah tiga trik yang paling sering dicoba hingga terbukti keabsahannya. Dan trik-trik ini…TIDAK PERNAH GAGAL!
RAHASIA ANTI TILANG #1: Saya anak jendral!
Trik ni merupakan trik yang paling umum. Kadang dikombinasikan dengan pengakuan saudara atau penyelipan kartu nama pejabat kepolisian. Saat dihentikan, calon tilang memasang tampang percaya diri, dan berbicara dengan suara lantang, nada sok, penuh keyakinan.
Skenario
“Maaf bu, ibu melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”
“YA SUDAH! YA SUDAH! KAU TILANGLAH AKU SEKARANG! AYO CEPAT! TILANG SAJA!”
“Err…maaf bu, memangnya ibu..siapa ya?”
“MACAM MANA PULA KAU TANYA-TANYA SIAPA AKU! KALAU KAU MAU TILANG, YA TILANGLAH SANA!”
“Maaf bu, ibu kenal siapa?
“MEMANGNYA KALAU AKU KENAL SIAPA-SIAPA KENAPA? HAH? MAU KAU TILANG LEBIH BESAR LAGI? HAH?”
“Engga bu, lain kali hati-hati ya…”
Mengapa tak pernah gagal…Dalam ilmu psikologi, taktik ini ini berpangkal pada reverse psychology, dimana seseorang melakukan persuasi guna mengarahkan lawan bicara melakukan hal yang justru tidak diinginkan. Menyuruh pak polisi untuk menilang dengan lantang akan memicu reaktan dalam diri Pak Polisi, yaitu respon negatif saat menanggapi sebuah persuasi, sehingga bertindak justru kebalikan persuasi yang diberikan (melepaskan dan tidak menilang).
Teori psikologi ini sebenarnya berasal dari abad kuno Indonesia, dan dikenal dalam bahasa lokal sebagai teori gertak sambal, dimana seseorang mengambil peran yang mengisyaratkan kekuatan yang lebih besar dari yang sebenarnya dimiliki. Semakin banyak grey area, lawan bicara semakin ragu akan kemampuan kita sepenuhnya dan biasanya tidak berani mengambil risiko….
Karena seringnya digunakan, diperlukan kehati-hatian dalam melaksanakan trik ini. JANGAN BERBOHONG adalah kunci sukses keberhasilan. Itu termasuk: jangan mengaku saudara jika bukan saudara dan jangan memberi nomor telpon yang tidak bisa dihubungi. Ingat, kegagalan dan gerak-gerik mencurigakan bisa berbuah tilang yang lebih berat!
RAHASIA ANTI TILANG #2: Saya lagi banyak masalah, Pak!
WASPADA! TRIK INI MEMBUTUHKAN LATIHAN AKTING! Tips ini sangat cocok bagi Anda para yang mempunyai kemampuan teaterikal. Begitu polisi menyetop, Anda harus segera mulai penjiwaan. Segera telengkupkan tangan, basahi mata dengan air mata buaya, dan tarik ulur ingus sehingga terdengar seperti menangis. Sepanjang interogasi, jaga kontak mata yang minim dengan Pak Polisi, gerakkan tangan menutup muka seperti sedang depresi.
Skenario
“Maaf bu, ibu melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”
“Aduh, teserah deh, pak, bapak mau nilang saya apa gimana teserah dhe,”
“Memangnya ibu kenapa?”
“Aduh, ga usah nanya-nanya dhe, Pak, saya lagi banyak masalah nih!”
“Masalah ibu apa?”
“Pokoknya saya lagi banyak masalah! Makanya saya ga lihat tadi tuh lampu merah di depan, pikiran saya kusut! Jadi teserah deh kalau bapak mau nilang saya…” Diucapkan dengan nada frustasi dan diakhiri dengan suara lirih dan nada gantung.
“Duh, ada yang bisa saya bantu kalau lagi ada masalah?”
“Ga bisa! Bapak ga bisa bantu saya!” terkesan mau nangis, “Ga ada yang bisa bantu SAAYAA!” menangis histeris.
“Ya uda dhe kalau ibu lagi banyak masalah, lain kali hati-hati ya…”
Mengapa tak pernah gagal… Karena orang jahat selalu menang, dan ini adalah teknik yang sangat jahat. Trik ini memanfaatkan sisi baik dari seorang Polisi. Manusia pada intinya mempunyai hati nurani yang dibimbing oleh nilai moral dalam lingkungan sosial. Tiada manusia yang lahir tanpa empati akan kesusahan manusia lain, bahkan meski hanya setitik. Apalagi seorang Polisi yang diharapkan menjadi pamong masyarakat.
Taktik ini memang masih jarang digunakan, mungkin karena membutuhkan penghayatan yang mendalam dan juga karena trik ini begitu mudah dikenali. Sekali dipakai, tentunya para polisi akan selalu terkenang-kenang. Ibaratnya sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Bisa-bisa bagian skenario tadi dipotong menjadi:
“Ahhh!! Udah! Udah! Ga usah pura-pura! Kemarin uda ada yang pake tuh! Ibu-ibu!”
RAHASIA ANTI TILANG #3: Saya mahasiswa hukum, lho!
Jika Anda bukan mahasiswa hukum, tidak perlu jadi ragu karena membaca judulnya. Memang tidak perlu kuliah hukum sejati untuk menggunakan trik ini. Cukup kemampuan persuasi dan kegigihan mempertahankan kasus macamnya pengacara artis.
Skenario:
“Mbak melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”
“Aduh, maaf, Pak, soalnya rambu-nya nggak kelihatan, ketutupan pohon tuu…lagian saya itu baru pertama kali lewat sini, jadi saya kurang paham sama jalanannya…”
“Ya tapi nggak bisa gitu dong, Mbak tetap melanggar dan harus ditilang”
“Wah, nggak bisa langsung ditilang gitu, pak! Kan saya sudah bilang tadi alasannya, rambunya tidak kelihatan karena ketutupan pohon, jadi sebenarnya kesalahan bukan di pihak saya. Saya ini mahasiswa hukum lho, pak! Masyarakat sadar hukum! Saya tahu benar pasal-pasal dan penerapannya, bahwa kalau pelanggaran karena rambu yang tidak jelas, tidak bisa dikenakan sanksi!”
“Memang aturannya seperti itu kok, melanggar ya kena sanksi!”
“Nahh, itu dia, apalagi saya tadi sudah minta maaf karena pertama kali lewat. Saya ini mahasiswa hukum, Pak, jadi saya tahu aturan persidangan. Saya jelas tidak bersalah karena saya tidak diinformasikan sebelumnya bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Rambu tidak jelas. Saya pertama lewat. Siapa yang bisa memberi tahu saya?”
“Justru ini saya stop dan saya beritahu, Mbak melanggar!”
“Benar sekali, terimakasih, Pak, tugas seorang polisi memang untuk membimbing anggota masyarakatnya agar patuh peraturan. Karena itu sekarang saya jadi tahu disini ga boleh belok, dan lain kali tidak melanggar.”
“Tapi yang ini tetap ditilang!”
“Wah, saya yakin bapakpun sebagai penegak hukum juga belajar hukum seperti saya di fakultas hukum. Pelanggaran kali ini tidak kena tilang, pak, tapi berikutnya jika saya melanggar lagi, saya harus ditilang. “
“Ya sudah ngomong sana di sidang tilang!”
“Sekali lagi pak, saya ini sudah hampir lulus dari fakultas hukum, berarti saya menguasai materi hukum! Coba bapak liat klo ga percaya, ini kartu mahasiswa saya, FAKULTAS HUKUM angkatan tahun ini lulus. Menurut yang saya pelajari, tidak semua pelanggaran harus masuk tahap persidangan, jika sudah diberikan alasan yang valid atas pelanggaran. Saya sudah memberikan alasan saya. Saya bahkan tidak menyalahkan aparat yang meletakkan rambu di tempat yang tidak terlihat.”
“Ya sudah sana pergi!”
Mengapa tak pernah gagal… tidak ada teori psikologi di balik tips ini, kecuali pemahaman bahwa kejiwaan manusia bisa terganggu kalau mendengar suara yang memekakan telinga terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Polisi pun juga manusia, yang bisa gila mendengar rentetan alibi tak henti oleh suara yang tak enak didengar.
Tentunya tips-tips tersebut tidak bermaksud menghina lembaga kepolisian. Kami pun pernah menikmati buah reformasi birokrasi saat mengurus SIM, surat tabrakan dan ditilang. Ramah-cepat-tidak mahal. Justru semua tips ini ditulis supaya pihak berwenang dapat menghindari orang-orang yang suka ngemplang tilang. Ada lagi yang mau membantu upaya penegakan hukum?
Sumber: Buku Have a Sip of Margarita dari Margareta Astaman
Sabtu, 05 Juni 2010
AlertPay, My Way to pay
dear friends,...
udah pernah transaksi online. bingung gimana bayarnya. mw pake kartu kredit tapi takut dijebol...
ini nih, saya kasih tahu salah satu cara pembayaran via internet yang diklaim aman oleh empunya, he he....
emank sih kebanyakan situs maupun temen2 yang udah biasa transaksi internet pake yang namanya paypal, tapi proses verifikasinya sedikit ribet 'n kabarnya ogah nerima verifikasi dari kartu kredit asal indonesia. biasanya tuh verifikasi paypal pake vcc (virtual credit card). vcc ini bisa dibeli ma yang jual (he he, cari sendiri yah sapa yang jual) n bagi pemula yang baru2 mw coba kebanyakan syok n jadi takut buat mencoba,.....
kalo si alertpay, verifikasi lebih gampang 'n gak banyak ribet. bisa lewat nomor handphone maupun kartu kredit. orangnya bilang sih keamanannya tetap terjamin,... situs-situs yang make alertpay juga udah semakin banyak. jadi, tunggu apalagi? cobain deh daftar di alertpay.
daftar disini
Nge-blog buat dollar
dear teman-teman,.....
mw bagi e-book gratis nh,... free
ini e-book dari pak Eko Nurhuda. isinya tentang cara membangun blog dengan 9 langkah penting agar blog menjadi menarik, sukses dan menguntungkan. Tp, kata pak eko,"ingat e-book ini tidak mengajarkan cara instan n gampang bwt ngehasilin pendapatan, butuh usaha yang tidak mudah.
nah, bagi yang berminat ma e-book ini silahkan download disini nih,...
download e-book nge-blog buat dollar
download e-book nge-blog buat dollar
mw bagi e-book gratis nh,... free
ini e-book dari pak Eko Nurhuda. isinya tentang cara membangun blog dengan 9 langkah penting agar blog menjadi menarik, sukses dan menguntungkan. Tp, kata pak eko,"ingat e-book ini tidak mengajarkan cara instan n gampang bwt ngehasilin pendapatan, butuh usaha yang tidak mudah.
nah, bagi yang berminat ma e-book ini silahkan download disini nih,...
download e-book nge-blog buat dollar
download e-book nge-blog buat dollar
Langganan:
Postingan (Atom)
